
Ilustrasi tambang. Dok; Ist.
EDISI.CO, NASIONAL– Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menjabarkan, sepanjang periode Januari-November 2022 pertumbuhan ekspor barang olahan nikel hampir mencapai 400 persen secara tahunan, year on year (YoY). Capaian ini, menurut Zulkifli, menjadi penopang kontribusi kinerja ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Januari-November 2022 ekspor produk olahan nikel tumbuh sangat tinggi sebesar 398,39 persen secara year on year, diikuti batu bara sebesar 70,17 persen year on year,” ucap Zulkifli saat konferensi pers virtual, Senin (2/1), dilansir dari laman Kemendag, Selasa 3 Januari 2023.
Baca juga: Sektor Tambang Sumbang PNBP Rp173 Triliun ke Kas Negara
“Kenaikan harga komoditas seperti nikel dan batu bara memang masih menjadi faktor utama sebagai dampak supercycle commodity era,” sambungnya.
Zulkifli juga menegaskan bahwa performa ekspor yang baik tidak hanya disumbangkan dari produk olahan nikel dan batubara, melainkan produk manufaktur masih memiliki kontribusi cukup.
Baca juga: PNS Dapat 8 Hari Cuti Bersama di 2023, Cek Tanggalnya
“Perlu dicatat juga, meskipun terjadi pelemahan global, selama periode tersebut ekspor produk manufaktur Indonesia masih tetap tumbuh. Besi baja tumbuh 37,11 persen YoY, alas kaki tumbuh 29,27 persen YoY, serta kendaraan dan bagiannya tumbuh 27,29 persen YoY,” sebut Zulkifli.
Nikel menjadi primadona seluruh negara, bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melarang ekspor mentah bijih nikel. Pemerintah hanya mengizinkan mengekspor produk olahan nikel.
Jokowi pernah menyampaikan sejak larangan ekspor nikel per 1 Januari 2020, pendapatan negara meningkat dari Rp17 triliun atau USD1,1 hingga tahun 2014, kemudian meningkat menjadi Rp326 triliun atau USD20,9 miliar pada tahun 2021. “Meningkat 19 kali lipat,” ucapnya.
Baca juga: PPKM Dicabut, Jumlah Wisman ke Bali Ditargetkan Capai 4 Juta Kunjungan di 2023
Peningkatan pendapatan negara atas larangan nikel pun diproyeksikan bertambah hingga akhir tahun 2022. “Perkiraan saya, tahun ini akan tembus lebihi dari Rp468 triliun atau lebih dari USD30 miliar USD,” pungkasnya.
Langkah kemandirian Indonesia mengelola sumber daya alam mendapat sandungan saat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan gugatan Uni Eropa atas Indonesia terkait kebijakan larangan ekspor bijih nikel Oktober 2022 lalu.
Nikel kerap disebut sebagai the mother of industry karena pengolahan jenis logam ini menghasilkan produk turunan ke banyak sektor yang dibutuhkan manusia seperti sendok, baterai, telepon genggam, hingga kendaraan.
Nikel juga diprediksi akan menjadi primadona seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan baku mineral logam itu untuk produksi baterai dan kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai salah satu industri masa depan.
Indonesia menguasai lebih dari 20 persen total ekspor nikel dunia. Indonesia juga menjadi eksportir nikel terbesar kedua untuk industri baja negara-negara Uni Eropa.