
Masyarakat Melayu Pulau Rempang menggelar Solat Hajat dan Zikir di Kampung Tanjung Kertang pada Selasa (5/9/2023) malam. Kegiatan ini sebagai bagiandari ikhtiar masyarakat Melayu Rempang yang tengah berjuang menolak penggusuran kampung mereka-Edisi/bbi.
EDISI.CO, BATAM– Warga Pulau Rempang terus menyuarakan penolakan terhadap rencana penggusuran kampung-kampung yang saat ini mereka huni. Penolakan itu disampaikan melalui pernyataan langsung warga. Mereka berkumpul, menyatakan sikap, menolak rencana penggusuran secara bersama-sama.
Aktivitas ini dilakukan oleh warga Kampung Sembulang Hulu, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, pada Kamis (26/10/2023) malam. Mereka sebelumnya menggelar Yasinan dan Doa bersama untuk terjaganya kampung mereka dari ancaman penggusuran.
Kegiatan ini dilakukan di Posko Bantuan Hukum Tim Solidaritas Nasional untuk Rempang.
Tidak hanya pengajian dan doa saja, posko yang dibangun warga bersama tim pendamping hukum dari 10 lembaga ini menjadi tempat terselenggaranya banyak kegiatan. Mulai dari pertemuan warga, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan hukum, termasuk kegiatan hiburan seperti nonton film bersama.
“Kami sudah ada kegiatan mingguan dan bulanan di sini,” kata salahi satu warga.
Senada dengan warga Sembulang Hulu, masyarakat Rempang di Kampung Sembulang Pasir Merah menggelar Solat Hajat dan Doa bersama. Kegiatan Solat Hajat dan Doa bersama ini juga merupakan bagian dari ikhtiar masyarakat Pulau Rempang untuk tetap berada di tanah yang diwariskan leluhur mereka secara turun temurun.

Warga Kampung Sembulang Pasir Merah menggelar Solat Hajat-Edisi/ist.
Warga meyakini apa yang saat ini mereka perjuangkan adalah hak yang memang seharusnya diakui. Seperti apa yang disampaikan oleh Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur, bahwa perjuangan Masyarakat Pulau Rempang adalah perjuangan konstitusi.
Hal itu Isnur sampaikan saat bersilaturahmi dengan warga Pulau Rempang di Lapangan Sepakbola Dataran Muhammad Musa, Kampung Sembulang pada 11 Oktober 2023 lalu.
Di Kampung Tanjung Banun, warga menggelar nonton bareng. Warga menikmati hiburan di tengah situasi kampung mereka yang tidak ada kepastian, apakah akan tergusur atau tidak.

Peneliti Sajogyo Institute, Eko Cahyono, mengatakan Masyarakat Melayu Pulau Rempang telah menggunakan benteng terakhir mereka untuk melakukan perlawanan atas ancaman penggusuran kampung yang telah mereka huni sejak ratusan tahun lalu. Mereka berupaya menjaga jejak peradaban, budaya dan ruang hidup atas nama Bangsa Melayu sebagai identitas.
“Bagi kami dari perspektif Sosiologi, Kalau perlawanan atas nama organisasi menunjukkan ideologi berbasis pluralisme. Tapi kalau perlawanan dengan basis identitas, itu pertahanan terakhir,” kata Eko.

Eko melanjutkan, perlawanan masyarakat dengan dasar identitas itu, mengerikan dari sisi kesatuan Republik Indonesia, dapat menciptakan disintegrasi politik. Kalau kondisi itu terjadi, akan memberi dampak traumatis pada masyarakat sebagai korban.
“Itu pemulihannya lama, karena yang dilukai itu identitasnya. Tanah Melayu yang punya sejarah panjang, kalau hilang, bukan hanya tanahnya, tapi juga sejarahnya, budayanya, identitasnya. Itu mau diganti pakai apa kalau hilang? Hubungan manusia dengan tanah tidak hanya ekonomistik,” kata Eko.
Baca juga: Tiga Alasan Negara Hadir dalam Rupa Antagonis pada Pengembangan Pulau Rempang
“Pendapat ini kami sampaikan saat menolak tambang di Pati. Kami disadarkan sama dalang (KI Mantep Sudarsono Alm) , dia bilang kalau sampai tambang semen itu merusak gunung kendeng, yang hilang bukan hanya gua kars, tetapi juga peradaban purba yang menjadi ciri khas lahirnya Jawa. lahirnya wonocoroko, cerita aji saka”.
Lebih lanjut, Eko melihat gerakan berbasis identitas Melayu Pulau Rempang ada kaitan dengan sejarah tanah Melayu di sana. Ia melihat kekhawatiran masyarakat bukan hanya kehilangan tanah, tetapi juga ada argumen historis Melayu di situ.