Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad saat Sidak di Mega Legenda , Batam-Edisi/Irvan F.
EDISI.CO, KEPRI– Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID ) Kepulauan Riau (Kepri) melakukan sejumlah upaya guna mengendalikan laju inflasi. Salah satunya yakni dengan memperhatikan ketersediaan barang; keterjangkauan harga; kelancaran distribusi dan komunikasi yang efektif khususnya untuk komoditas bahan pangan yang rentan mengalami fluktuasi harga.
Hal tersebut diungkapkan Kepala BI Kepri dan juga Wakil Ketua TPID Kepri, Suyono, dalam keterangan persnya, Jumat (3/3/2023).
“Sejalan dengan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), TPID melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pelaksanaan pasar murah menjelang Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN), penguatan Kerjasama Antar Daerah (KAD), penyelenggaraan capacity building TPID, serta optimalisasi sinergi program TPID melalui pelaksanaan High Level Meeting (HLM) maupun rapat tim teknis,” tuturnya.
Suyono menjelaskan, TPID Provinsi Kepulauan Riau serta TPID Kabupaten Kota se-Kepulauan Riau senantiasa berkomitmen memperkuat upaya pengendalian inflasi untuk mencapai sasaran inflasi sebesar 3:1 persen (yoy).
“TPID juga senantiasa melaksanakan pemantauan perkembangan harga bahan pangan, monitoring ketersediaan pasokan serta memastikan distribusi bahan pangan dapat berjalan secara efektif dan efisien,” paparnya.
Baca juga: 10 Rumah di Sungai Raya masih Terendam
Memasuki bulan Maret 2023, Suyono menambahkan, terdapat potensi meningkatnya permintaan menjelang HBKN serta tingginya curah hujan dan gelombang laut yang dapat mempengaruhi tekanan inflasi.
“Namun demikian, kuatnya koordinasi TPID dan sinergi program GNPIP diharapkan dapat menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi gabungan dua kota HK di Provinsi Kepulauan Riau untuk mencapai sasaran intlasi yang telah ditetapkan,” ucap Suyono.
Diketahui sebelumnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (HK) gabungan 2 Kota IHK di Provinsi Kepulauan Riau pada Februari 2023 mengalami inflasi sebesar 0,47 persen (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi sebesar 0,24 persen (mtm).
Inflasi tersebut bersumber dari peningkatan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Hal ini sejalan dengan kenaikan harga sayuran seperti Kangkung dan Bayam, serta Cabai Merah yang dipengaruhi menurunnya pasokan dampak kondisi cuaca.
“Inflasi Februari masih terkendali, cabai merah juga pengaruhi inflasi, hal itu disebabkan oleh pasokan yang menurun, sebagai dampak dari kondisi cuaca yang kurang mendukung hasil panen,” terang Suyono.
Selain itu, lanjutnya, terdapat kenaikan cukai rokok pada awal tahun 2023 yang berdampak pada kenaikan harga rokok kretek filter. Sementara, tekanan inflasi juga bersumber dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar.
“Secara spasial, Kota Batam dan Kota Tanjungpinang mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,50% (mtm) dan 0,32% (mtm),” jelasnya.
Dengan demikian, secara tahunan, inflasi gabungan dua kota IHK di Kepri tersebut tercatat sebesar 5,79% (year-on-year), meningkat dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 4,85% (yoy). Capaian inflasi tahunan tersebut relatif lebih rendah dibandingkan 10 provinsi lainnya di wilayah Sumatera, yakni berada di posisi kedua terendah.
Penulis: Irvan F.