EDISI.CO, BATAM– Masyarakat dari berbagai kampung di Pulau Rempang menggelar atraksi budaya dan orasi pada malam lebaran Iduladha 1447 H/2026. Kegiatan ini mereka beri tajuk “Semarak Cahaya, Rempang Berdaulat, Rempang takkan Lenyap”.
Atraksi budaya dan orasi ini, adalah wujud sikap masyarakat Pulau Rempang yang menolak tergusur dari kampung yang telah mereka huni turun temurun sekak ratusan tahun lalu. Bentuk perjuangan warga melawan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang justru mengancam eksistensi mereka di sana.
Melalui kegiatan ini, warga menuntut pemerintah berlaku adil, dengan merancang pembangunan yang tidak menghancurkan ruang hidup dan peradaban masyarakat. Dalam konteks Pulau Rempang, warga mendesak pemerintah melegalkan kampung-kampung yang telah diwariskan nenek moyang mereka di sana, bukan justru menggusurnya.

Pada Selasa (26/5/2026) malam, warga telah ramai memadati lapangan di Kampung Sungai Raya, Kelurahan Sembulang di Pulau Rempang sejak pukul 19.30 WIB. Warga dari berbagai kampung berbondong-bondong datang, menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Tempat duduk yang disiapkan telah terisi penuh menjelang pukul 20.00 WIB.
Baca juga: Pemko Batam Koordinasikan Pemegang Izin Usaha Penyedia Tenaga Listrik
Kegiatan dibuka dengan doa, dipimpin oleh warga Kampung Pasir Panjang. Setelah itu, warga berkumpul di depan panggung acara. Menggelar orasi bersama. Warga menyatakan sikap menolak penggusuran akibat Proyek Eco City Rempang. Seruan berisi pesan bahwa Pulau Rempang bukan tanah kosong; Rempang menolak tumbang; tolak relokasi; tolak transmigrasi lokal menggema waktu itu.
Orasi besar ini, diikuti oleh penyampaian pesan motivasi dari masing-masing kampung. Pelaksanaannya diselingi oleh atraksi budaya dan pertunjukan seni yang juga dibawakan oleh masyarakat dari berbagai kampung yang hadir. Mulai dari tari-tarian, pembacaan puisi, hingga musik perkusi.
Warga juga menyalakan obor yang mengiringi jalannya kegiatan.
Koordinator Umum Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB), Sukri, dalam sambutannya mengajak masyarakat Pulau Rempang untuk mempererat ikatan antara satu warga dengan yang lain, antara kampung yang satu dengan kampung yang lain.

Terhubungnya warga antar kampung di Pulau Rempang dalam semangat perjuangan yang sama, kata Sukri, menjadi modal utama dalam usaha masyarakat mempertahankan kampung. Kekuatan untuk menjaga warisan leluhur mereka.
Perjuangan masyarakat Rempang menjaga kampung, kata Sukri lagi, adalah perjuangan yang sejalan dengan konstitusi. Sehingga, ia mengajak masyarakat untuk tetap tegar dan kuat.
“Semakin banyak kampung yang bergabung dalam AMAR-GB, maka akan semakin kuat perjuangan kita. Mari kita berjalan bersama,” kata Sukri.
Baca juga: Warga Rempang dan Suku Laut Tanjung Sauh Ikut Nobar Film Pesta Babi di Batam
Tokoh masyarakat Pulau Rempang, Gerisman Ahmad, dalam kesempatan tersebut, mengajak masyarakat Pulau Rempang untuk tidak lupa dengan sejarah. Mengingat perjuangan nenek moyang mereka dalam membangun menjaga peradaban di Pulau Rempang. Menjadikan pengetahuan itu sebagai dasar perjuangan menjaga kampung.
Sejarah, kata Gerisman, akan memberi arah yang menuntun sikap masyarakat saat ini. Sehingga perjuangan menjaga warisan leluhur mereka di Pulau Rempang adalah keniscayaan.
“Kalau kita tidak ingat sejarah, hidup kita tidak ada arah,” katanya.
Seruan perjuangan juga mengemuka dari warga Kampung Sungai Buluh; Pasir Panjang; Sembulang Hulu; Sembulang Pasir Merah; Sembulang Camping; Sembulang Mekar Lestari; Pantai Tiga Puteri; Sungai Raya; Pantai Melayu dan kampung-kampung lainnya. Warga saling mengingatkan untuk terus berjuang, namun dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum.
Hal serupa juga nampak dalam untai puisi yang dibacakan warga. Berisi pengingat atas luka dalam tragedi di Pulau Rempang dan ajakan untuk terus berjuang.